Delapan Nol Dua
Pukul tujuh empat lima. Aku berdiri di depan cermin, menggenggam selembar kain. Dua lembar dengan warna berbeda terlipat manis diatas tempat tidur. Aku memandangi wajahku, setiap sudut. Mengutuki cermin yang hampir selalu berhasil menahanku barang sejenak. Merayuku untuk tak berpaling. Tunggulah sebentar, rambutmu tak rapi, katanya. Sebentar, sebentar, mukamu lusuh, kau lupa pakai bedak, sautnya.… Read More Delapan Nol Dua


