Baby, my day

Cerita Berat Badan Liam Chapter 5 : Jadwal Makan Ketat!

Image source : Google

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum, apa kabar makemak semuaaa…. Sebenarnya, saya agak sedih ketika menulis postingan ini, karena saya berharap BB Liam baikan dan bisa mengakhiri postingan lanjutan soal BB. Mungkin usaha saya belum maksimal ya. Lelah gak? Iya lelah saya tuuuu, lelah batin terutama. Saya dan suami benar-benar lelah. Mertua saya juga mungkin sudah lelah juga. Di postingan sebelumnya kan saya lagi persiapan buat mudik. Nah berikut ini ceritanya. Monggo 😊

Tibalah waktu kami mudik ke Malang. Saya dan suami menyiapkan tiga hal. Pertama menyiapkan rencana agar Liam gak rewel di perjalanan. Pesawat kami terbang dari Pangkalpinang ke Surabaya, transit Palembang. Pesawat Palembang – Surabaya durasinya 1 jam 55 menit. Belum lagi ditambah perjalanan darat ke Malang selama kurang lebih 1,5 jam. Kedua, menyiapkan cara agar Liam mau main dengan ortu saya karena Liam anaknya pilih-pilih. Dia gak ke semua orang mau digendong dan diajak main apalagi kalau bukan yang sehari-hari dia lihat. Saya kuatir ketika kakek neneknya pengen gendong, Liamnya malah berontak. Mereka nanti bakalan patah hati sekali. Yang ketiga jelas, makan Liam di Malang nanti bagaimana.

Saya bahas yang ketiga aja ya. Ceritanya saya sudah nyetok bubur Liam yang paling dia suka. Kami berangkat siang, sampai Palembang sore. Kami mampir dulu ke rumah kakeknya suami sambil menunggu flight selanjutnya. Ketika sampai di rumah kakeknya suami, Liam gak mau makan bubur. Saya tawarkan nasi juga gak mau. Ada suasana baru, mainan baru dan ada ponakan cowok juga yang umurnya 4 tahun yang gak berhenti ngajak Liam main. Alhamdulillah pas disuapin kentang rebus mau meskipun cuma sekitar 2 sendok makan. Pokoknya saya nenenin terus. Sampai sore pun mau makan bubur tapi cuma sesendok. Sehabis magrib, kami berangkat ke bandara. Alhamdulillah pas di pesawat, Liam gak rewel karena di depan saya ada anak umur 3 tahun yang ngegodain Liam. Jadi Liamnya ga bosen dan kami gaperlu ngeluarin kartu truf (mainan rahasia).

Sekitar setengah jam sebelum landing, Liam pup. Setelah landing, Liam  saya ajak ke toilet cewek. Karena nyebokin Liam kudu 2 orang (1 megangin, 1 nyebokin), saya ajak ibu saya untuk ikut membantu. Liam malah jerit jerit di toilet. Untung sudah jam 10 malam, jadi toiletnya sepi. Setelah jerit-jerit, Liam bobok pules di mobil.

Sampai rumah ortu, Liam bobok pules dan keesokan harinya bangun siang. Total 2 minggu di Malang, Liam makannya sangat moody. Ada suasana baru, lingkungan dan barang-barang baru, membuat Liam lebih memilih main dan observasi daripada makan. MasyaAllah, ini ujian banget bagi saya dan suami. Mana Liam bangunnya seringkali jam 10 pagi, sehingga frekuensi makannya hanya 2x sehari.

Di malang, saya sempat berkunjung ke rumah sepupu yang kebetulan lokasinya dekat dengan rumah orang tua saya. Saya bawa bubur Liam untuk sekalian makan disana. Hitung-hitung suasana baru. Liam gamau rupanya. Sebagian dimakan, sebagian lagi dilepeh. Trus iseng ngecek dapur sepupu ada sop kambing. Saya suapin sama nasi eh doyan. Besoknya saya beli bakso deket rumah. Saya suapin sama lontong eh doyan juga. MasyaAllah, apakah memang mecin itu nikmat sekali ya ☹ Sampai cuti kami berakhir, Liam masih super moody kalau makan. Mewek mulu saya tuh kalau malam. H-2 kembali ke Pangkalpinang, malamnya tiba tiba Liam kebangun, batuk batuk trus muntah. Semua makanan yang dimakan waktu sore keluar semua. Astaghfirullah, saya sudah ga ngerti lagi harus bagaimana. Saya lanjut nenenin saja sampai Liam tidur lagi. Dicek suhu badan normal.

Sekitar sejam kemudian kebangun lagi, batuk batuk dan muntah. Kali ini Liam nangis. Saya lemes selemes lemesnya. Saya nenenin gak mau. Saya gendong sampai nangisnya reda dan tidur lagi. Pas saya taruh di kasur, 10 menit kemudian Liam kebangun, nangis. Saya gendong lagi—tidur lagi—taruh kasur—10 menit kemudian bangun dan nangis. Begitu berulang sampai entah berapa kali, akhirnya saya mencoba pindah kamar. Saya coba pindahkan Liam ke kamar adik saya. Saya buka semua jendela supaya sirkulasi udaranya bagus. Akhirnya Liam bisa tidur agak lama. Malah saya yang gak bisa tidur. Baru bisa tidur jam 4 pagi karena Liam sudah mulai nyenyak. Paginya saya bawa Liam ke mbah pijet. Saya berharap malam ini Liam bisa tidur nyenyak karena siang ini jadwal terbang ke Palembang. Sesampainya di Palembang (sore), kami menginap lagi di rumah kakek suami karena flight ke Pangkalpinang jam 07.30 pagi (esoknya).

Semaleman di rumah kakek, saya berubah seperti zombie. Liam lebih parah lagi. Tiap ditaruh di kasur, 5 menit kebangun. Sudah gak muntah lagi tapi tidurnya masih belum bisa nyenyak. Saya gendong sambil duduk juga gak mau. Maunya sambil berdiri. Semua orang kasian sama saya, mencoba menggantikan saya menggendong Liam tapi Liamnya menolak. Bahkan sama mertua yang biasanya mau, ini juga menolak. Liam teriak dan badannya berontak. Saya cuma bisa maintain emosi supaya gak nangis. Liam butuh saya dan maunya cuma sama saya. Saya bilang sama suami supaya gak ikut bangun saat Liam nangis. Kamu harus tidur karena besok pas Liam melek, gantian saya yang tidur. Giliran kamu yang jagain Liam pokoknya. Malam ini gapapa saya aja yang begadang. Akhirnya Liam berhenti nangis jam 4 pagi, dan bisa tidur nyenyak di kasur.

Thats the worst night ever since Liam was born until I write this post. Liam memang anaknya rewel kalau sedang sakit, tapi gak pernah sampai maunya tidur digendong sambil berdiri. Paling parah itu maunya digendong sambil duduk. Oiya penasaran gak kenapa ga ke dokter? Saya sama suami ngasih tenggat tiga hari maksimal. Kalau lewat tiga hari masih rewel, baru kami bawa ke dokter.

Pas jam 4 subuh itu, kami siap-siap ke bandara untuk flight ke Pangkalpinang. Liam tidur nyenyak di taksi sepanjang perjalanan ke bandara. Sampai bandara kebangun dan Alhamdulillah gak rewel sampai landing. Saya? Gak bisa tidur ternyata. Baru bisa tidur sesampainya di rumah.

Balik ke Pangkalpinang, saya timbang Liam (usia hampir 13 bulan) dan gak ada kenaikan dari bulan sebelumnya. Saya lemes, udah mau meledak. Pasti karena dua hari sakit kemarin beratnya turun. Suami nguatin, bilang gak perlu dipikir lagi, sekarang gimana yang penting usaha lagi buat bagusin nafsu makan Liam. Hari senin, kami udah masuk kerja. Alhamdulillah dapet cerita dari mertua kalau Liam makannya bagus. Nyusunya juga banyak sekitar 80-100ml sekali nyusu. WOW BANGET!! Selama ini Liam maks 60ml sekali nyusu. Alhamdulillah.

Besok paginya, kami ke pasar. Iseng beli beberapa lontong mengingat pas di Malang, Liam doyan pas disuapin lontong. MasyaAllah, ternyata Liam suka. Jadi setiap makan kombinasinya lontong+telur rebus dengan kuah (post sebelumnya). Sampai sebulan, makannya itu-itu terus. Sesekali diselingin nasi yang dipenyet atau telur dadar. Kadang juga saya kasih wortel kalau mertua lagi masak sop. Wah makannya itu itu aja apa ga takut  picky? Saya belum peduli soal itu sih. Yang penting nutrisinya terpenuhi dulu dan BB nya bisa balik ke garis hijau. Mamak-mamak sekalian pasti ngerti perasaan ini. Sama kayak kalau lagi ngelanggar aturan “no screen time” saat makan. Nah kayak itulah perasaan saya. Apapun dilakukan demi anak makan.

Beberapa hari kemudian, dokter Meta (dokmet) bikin IG-Story tentang jadwal makan. Berikut kesimpulan dari IGS beliau:

  1. Jadwal makan yang disiplin berguna untuk mengenalkan rasa lapar ke bayi
  2. Lambung bayi membutuhkan waktu sekitar 100 menit untuk 50% pengosongan
  3. Pentingnya menaati feeding rule: makan selama maksimal 30 menit. Jadi makan maksimal 30 menit, habis ga habis stop. Hal ini untuk memaksimalkan pengosongan lambung bayi

Kapasitas lambung bayi masih kecil sehingga saya sangat setuju teori dokter Meta soal pengosongan lambung itu. Setelah dua jam artinya bayi akan lapar kan? Karena perutnya sudah separuh kosong. Soal jadwal makan yang disiplin bikin lapar juga setuju. Sama seperti kita, kalau biasa pagi sarapan trus tiba tiba gak sarapan kan kerasa lapar ya? Nah semacam itulah teorinya. Selain itu, dokter Meta juga membahas porsi nutrisi yang harus dipenuhi sekali makan. Dokmet menyebut menu 4 bintang yang selama ini beredar di masyarakat, yang beliau gak tau itu darimana asal sebutannya. Dokmet memberikan sebutan yang lain yaitu menu 4 kuadran selain ASI yaitu Karbohidrat, Protein, Lemak dan Buah/Sayur. Gambar terlampir di bawah ya.

 

Ini proporsi antara karbohidrat, protein dan lemak diambil dari IGS dokmet.

Saya sarankan untuk membaca semua IG-Story nya beliau supaya ga salah paham. Disini saya cuma ngasih gambaran umum aja. Jadi dari situ saya dan suami langsung sepakat untuk menyusun jadwal ketat, print dan tempel di rumah supaya mertua ingat. Kami juga membahas ini dengan mertua dan mertua pun setuju. Selain jadwal, kami juga sepakat untuk mematuhi proporsi nutrisi. Ini sih yang sulit. Soalnya kami kan gak tau ya ngitungnya gimana. Sementara dikira-kira aja sih. Sulitnya juga, karena sumber lemak alami ini gak banyak, jadi kami kesulitan juga. Sementara dicoba disuapin butter aja atau dari minyak goreng kalau menunya telur dadar.

Alhamdulillah, setelah menerapkan jadwal makan ketat, kurang lebih 3 minggu kemudian Liam ada kenaikan 300gr. Rekor dong, selama MPASI naiknya cuma maksimal 200gr/bulan. Selain itu, nafsu makannya sudah mulai kelihatan bagus. Meskipun kadang tetep ada drama tapi frekuensinya berkurang. Kami senang karena ini kemajuan yang sangat signifikan. Dari awal kan susah sekali membuat Liam makan dengan ikhlas. Pokoknya kalau baca dari chapter 1 bakal ngerti deh gimana lelahnya. Waktu makannya gimana? Diusahakan 30 menit, hehehe. Seringnya dilebihin 10-15 menit :p

Contoh jadwal makan bayi dari dokmet:

Porsinya gimana? Hmm….kalau membicarakan porsi ya masih 100-150 ml, padahal seharusnya sudah 250ml. Kami coba pelan-pelan naikin porsinya. Pada intinya, saya dan suami satu persatu step memperbaiki BB Liam. Kalau dirangkum mungkin susunannya seperti ini:

  1. Perbaiki nafsu makan. Buat anak bisa makan dengan ikhlas tanpa paksaan.
  2. Waktu makan dibatasi selama 30 menit. Ekstensi waktu boleh di awal-awal percobaan tapi lama-lama ekstensi dikurangi. Disini porsi makan sebisa mungkin konsisten. Misal 30 menit (+15 menit) untuk 150 ml, seterusnya konsisten seperti itu sampai lama-lama si anak bisa makan dalam waktu 30 menit saja.
  3. Pelan-pelan menambah porsi makan. Nah kalau si anak udah bisa makan 150ml/30 menit, porsi dinaikkan menjadi 175-200ml. Waktu makan tetep 30 menit, boleh dengan ekstensi. Sama seperti poin 2, lama-lama yang tadinya ektensi jadi bisa habis selama 30 menit saja.
  4. Genjot pertumbuhan badan dengan lemak+protein.
  5. Setelah semuanya bagus, barulah nerapin no screen time saat makan.

Kalau dokmet bilang selama porsi proporsinya pas dan anak ga ada indikasi medis, berat/tinggi badan anak akan bertambah sesuai berat minimal kenaikan. Nah karena Liam proporsinya aja yang pas sedangkan porsinya belum, berat dan tinggi badan Liam bertambah tapi belum sesuai minimal kenaikan. Pokoknya soal porsi pelan-pelan dulu. Alhamdulillah, bulan 15 pas diplot di grafik KMS, berat Liam sudah keluar garis kuning dan naik garis hijau muda! Eits, kami belum senang dulu ya. Selama belum balik ke hijau tua (Liam dulunya hijau tua lho), kami belum bisa santai. Itu pun masih jauh kayaknya (pesimis euy). Sementara targetnya konstan di garis hijau muda dulu. Semoga ga balik ke garis kuning. Amin ya Rabbal Alamin.

 

 

2 thoughts on “Cerita Berat Badan Liam Chapter 5 : Jadwal Makan Ketat!

  1. Semangat mom. I feel you, truly. Aku tau gimana rasanya bolak balik RS buat tes ini itu. Rasanya pngin cepet kelar tuh masalah BB. Rasanya gak mood banget saat nawarin makan ke anak karena harus siap patah hati. sampe aku akhirnya harus rela melepas anak kesana kemarinkalau makan karena setiap ditaruh di booster seat sudah BT duluan.

    Semoga segera kelar ya mom urusan per BB an ini

    1. Semangat juga buat mommy!!! Betul sekali, demi kewarasan, demi anak makan pun nonton TV hayu nonton yutub hayu, sambil main sambil lelarian hayulah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *